Pengungsi UCUP from BANDUNG – Bag. 7

Kalau sudah dinobatkan sebagai Raja Komputer apa salahnya menjalani kehidupan bak seorang Raja. Apalagi pada saat itu JR memiliki uang yang berlimpah ruah! Bukan hanya dari usaha LPKIA saja melainkan juga dari usaha Export – Import ke negara-negara Timur Tengah yang menghasilkan Jutaan AS Dollars. Salah satu mitra dagang JR pada saat itu adalah Adnan Kashoggi salah satu konglomerat dari Arab.

Oleh sebab itulah pada saat itu uang yang JR miliki tidak ada Seri Nomornya. Jadi tidak perlu dihitung lagi. Uang hanya digunakan untuk FOYA-FOYA saja – No Limit yang penting Have FUN. Maklum seperti juga pepatah hilang satu, besok tumbuh sepuluh. Jadi Easy Going sajalah !

Saya ingin memberikan sedikit gambaran mengenai LIFESTYLE – JR dahulu.

Perkataan THE BEST merupakan ciri khas gaya hidup JR dahulu. Kenapa harus naik pesawat First Class apabila bisa naik pesawat Supersonic Concorde yang memiliki kecepatan jelajah 2,04 Mach (2 x Kecepatan Suara).

Kenapa harus naik Taxi apabila ada Rolls Royce yang jemput. Misalnya kalau saya ke Hongkong saya selalu dijemput dengan Rolls Royce Hijau dari Hotel Peninsula ataupun oleh Oriental Hotel di Bangkok. Sarapan pagi selalu dengan Champage Dom Perignon.

Apabila saya ke New York saya sering dijemput oleh sohib saya Win (Winthrop Paul Rockeffeler). Dan tinggal di Istananya beliau yang jauh lebih megah daripada di Waldorf Astoria ataupun Ritz Carlton. Selalu dijemput pakai helikopter pribadi dia. Oleh sebab itu kenapa harus minum Wine yang AS$ 100 kalau ada yang AS$ 1.000 sebotol.

Kenapa harus minum Air Aqua seharga Rp 5.000 kalau ada mineral air yang seharga AS$ 50 sebotolnya. Kenapa Aqua tsb begitu mahal? Konon air ini tidak pernah dijamah oleh manusia. Maklum air yang dicairkan langsung dari Gletser Es. Agar bisa hidup lebih sehat githu.

Begitu juga di Hilton Hotel Jakarta walaupun saya sudah punya rumah sendiri di Jakarta. Saya lebih senang dan sering bermalam di sana. Jadi Hilton itu mirip Second Home JR githu. Maklum dahulu belum begitu banyak Hotel Bintang Lima di Jkt.

Hilton memiliki Room khusus untuk VVIP misalnya untuk Mike Jagger atau Prince Albert – Raja Belgia. Kamar tersebut disebut PENTHOUSE yang memiliki selainnya swimming pool, ruang sauna, dapur besar, lift khusus maupun Helipad tempat landasan Helikopter. Apabila bermalam disitu disediakan Butler maupun Sekretaris pribadi. Di Penthouse tersebut itulah saya sering makan bareng dengang Liem Sui Liong maupun William Soeryadjaya.

Saya menceritakan hal-hal tersebut diatas untuk memberikan gambaran mengenai Sorga kehidupan JR sehari-hari. Sebelumnya ia dicampakan ke dalam Neraka di Bui!

Tepatnya pada awal th 1989, pada saat tsb saya sedang Lunch di Restoran Taman Sari – Hilton Hotel dengan seorang pejabat tinggi. Baru saja saya makan satu sendok maka. TTiba-tiba datang Polisi dengan pakaian preman yang menunjukkan surat perintah untuk menangkap saya. Saya di tangkap dengan tuduhan, karena memiliki KTP Aspal. Dan saya memang bersalah, karena sebagai warna negara Jerman, saya tidak berhak lagi untuk memiliki dan menggunakan KTP Indonesia.

Saya dijebloskan ke dalam satu Sel tahanan yang ukurannya jauh lebih kecil dari kamar WC saya. Namun dihuni oleh delapan orang. Sel tersebut selain bau juga pengap, karena tidak ada jendela. Setiap hari kami hanya diberi waktu keluar sel selama 30 menit saja. Kami buang kotoran ataupun kencing di ember dalam sel. Bisa dibayangkan betapa baunya Sel tersebut. Di Sel inilah saya ditahan selama dua bulan.

Kami tidur dibawah lantai tanpa alas. Sedangkan semalam sebelumnya saya masih tidur diatas Kasur bekas Raja Belgia maupun bekas tempat tidur Mike Jager. Sekarang harus tidur dilantai yang dingin tanpa alas. Mirip gembel yang tidur di Emperan Toko. Perbedaan seperti Langit dan Neraka. Tanpa berkata sepatahpun juga. Saya terima kenyataan pahit ini dengan tabah. Kata MERATAP ataupun MENGELUH tidak ada di dalam Kamus hidup saya.

Selain dingin banyak tikus dan kecoa/coro. Beda seperti ketika tidur di Penthouse Hilton dimana ada AC maupun pengharum kamar. Tapi sekarang pengharum di Sel saya adalah bau pesing dari air kecing yang berada di ember sebelah kepala saya.

Saya satu sel dengan seorang pembunuh yang memiliki julukan JEGER HIDEUNG. Tubuhnya tinggi besar dan penuh dengan Tattoo mirip Mike Tyson. Wajanya benar-benar sangat menyeramkan. Penuh codet bekas luka. Begitu saya masuk ia menatap saya dengan corong mata seperti juga Singa buas yang ingin melahap mangsanya. Betapa tidak saya masuk sel penjara dengan celana putih dan Kemeja Sutra warna putih pula. Maklum putih merupakan pavorit warna pakaian saya.

Belum juga berada lima menit di dalam sel. Saya langsung digebug dan di hajar oleh si Jeger. Apakah saya diam dan mau menerima nasib seperti itu? Apakah mang Ucup tidak takut dibunuh olehnya? No Wey lah, walaupun badan saya jauh lebih kecil. Saya tidak terima diperlakukan seperti demikian. Masalahnya hal ini menyangkut harga diri. Saya lebih baik KEHILANGAN NYAWA daripada KEHILANGAN HARGA DIRI !

Saya langsung balik NONJOK dia, sehingga terjadilah perkelahian. Bahkan akhirnya saya keroyok oleh dua orang napi lainnya lagi yang merupakan anak buanhya Jeger. Saya jatuh berkali-kali dengan kemeja yang berlumuran darah, tetapi GO ON FIGHTING & Never Surrender!

Akhirnya kami dilerai oleh sipir penjaga tahanan. Selainnya babak belur Gigi sayapun copot satu, karena dikeroyok oleh para preman.

Apakah saya marah? TIDAK, karena saya berusaha untuk selalu perfikir POSITIF. Tidak mungkin orang itu mau menghajar saya kalau tidak ada sesuatu yang mendorong dia untuk melakukan hal ini. Ternyata benar!

Jeger ini sering keluar masuk penjara karena kasus perampokan, sehingga akhirnya ia membunuh sang korban. Ia merampok, karena istrinya mau melahirkan bayi pertamanya. Sedangkan dia boro-boro memiliki uang; pekerjaan pun tidak punya. Hal inilah yang membuat dia jadi stress dan membuat ia juga, jadi nekad!

Tengah malam saya mendengar suara mengendap-ngendap orang mendekati saya. Rupanya Jeger tsb, otomatis timbul pikiran JANGAN-JANGAN. Siapa tahu ia mau bunuh saya???

Rupanya Jeger melihat ketika saya tidur pada malam tersebut dalam keadaan menggigil kedinginan, karena kelelahan. Lagipula seharian belum makan. Disamping itu kemeja saya rusak tecabik-cabik, ketika berkelahi. Dengan perlahan dan lembut ia berusaha untuk menyelimuti saya dengan sarung satu-satunya yang ia miliki. Walaupun demikian saya pura-pura sedang tidur nyenyak.

Pada saat itu saya merasa Tuhan telah mengirimkan malaikatnya untuk menghibur saya. Maklum pada hari pertama saya di Bui, saya merasa sangat kesepian dan haus akan belaian kasih sayang. Saya merasa dijauhi oleh banyak orang. Rasanya satu hal yang tidak mungkin bisa kita dapatkan di dalam Bui ialah RASA KASIH apalagi dari seorang Pembunuh.

Teringat oleh saya ketika masih kecil; Emak Anie selalu menyelimuti saya di malam hari. Hal yang serupa sekarang dilakukan oleh seorang pembunuh yang sebelumnya menggebuki saya sampai babak belur. Tanpa bisa ditahan lagi turun air mata saya berlinang keluar. Thanks God!

Disinilah terbuktikan bahwa setiap manusia memiliki sisi baiknya juga. Oleh sebab itulah saya selalu berusaha untuk berpandangan Positif walaupun terhadap seorang Pembunuh sekalipun.

Esoknya saya langsung menyuru sekretaris saya untuk menyantuni istrinya. Saya menyantuni mereka setiap bulan, bahkan biaya melahirkan di rumah sakit pun ditanggung sepenuhnya oleh saya. Istrinya melahirkan seorang putera. Jeger memberikan nama JUSUF kepada puteranya. Sebagai ucapan rasa terima kasih dan juga merasa bangga memiliki seorang sahabat seperti JR.

Di bui JR menjalin persahabatan dengan si Otong, Seorang maling sandal jepit di Masjid. JR merasa senang punya sahabat walaupun ia sekedar seorang maling sekalipun. JR bersedia menukar sendal jepit itu yang dicuri olehnya dengan sepatu Bally JR agar si Otong bisa dibebaskan. Dan ini bukan hanya sekedar sepatu Bally biasa, melainkan sepatu Bally dari kulit burung Kasuari dimana harganya sekitar AS$ 2.000. Kenapa demikian?

Bacalah sambungannya
Mang Ucup