Pengungsi UCUP from BANDUNG – Bag. 16

Pertama mohon maaf, karena telah membuat rekan-rekan di FB jadi sport jantung sejenak; menunggu foto dari neng geulis.

Kemarin saya berlibur ke Jerman, namun barusan saja sehari berlibur di sana. Saya sudah mengambil keputusan untuk balik lagi ke Belanda dan juga balik lagi ke tempat Penampungan Pengungsi. KENAPA? Bacalah kisah yang terlampir di bawah ini.

Nenek MARWA (60 tahun) beserta suaminnya Addul Qadir (65 tahun) mengambil keputusan untuk pergi mengungsi meninggalkan kampung halamannya. Keputusan yang tidak mudah; mengingat usia meraka sudah uzur. Dilain pihak mereka sudah tidak punya tempat tinggal lagi untuk berteduh. Maklum rumah mereka telah dibumi ratakan akibat bom bahkan kedua anak dan enam cucunya pun turut terbunuh akibat bom.

Perasaan takut dan juga keinginan untuk bisa menjalani kehidupan dengan tenang inilah yang mendorong mereka; untuk mengikuti arus pengungsi lainnya berangkat jalan kaki ke Turki. Sebelumnya mereka berangkat sang suami memeluk Marwa erat-erat untuk terakhir kalinya sambi berkata: “Apapun yang akan terjadi dengan diri saya kamu harus tetap jalan terus!”

Apakah salah apabila mereka ingin hidup dengan tenang tanpa harus ada rasa takut entah di bom ataupun di tembak? Apakah permohonan untuk bisa hidup dengan tanpa adanya rasa ketakutan ini terlalu besar?

Untuk bisa menyebrang ke daratan Eropa mereka harus naik perahu. Agar bisa turut mereka harus bayar AS$ 1.500 sisa uang terakhir yang mereka miliki. Perahu karet kecil diisi oleh 18 orang. Akhirnya tenggelam karena Overloaded. Untung mereka ditolong oleh perahu nelayan lainnya. Namum suaminya Abdul Qadir sudah tidak bisa tertolongkan lagi.

Suaminya meninggal tenggelam dihadapan matanya sendiri. Kalau tidak dipegang oleh para pengungsi lainnya pasti ia sendiri sudah ingin turut menceburkan diri kelaut. Apa gunanya harus hidup seorang diri tanpa suami tercinta? Tetapi dilain pihak masih terngiang-ngiang olehnya pesan terakhir dai suaminya. Agar apapun yang terjadi ia harus tetap melanjutkan perjalanannya.

Dengan jalan tertatih-tatih Marwa melanjutkan perjalanannya. Berapa kali ia harus tidur dibawah alam terbuka. Kelaparan, kehujanan dan kedinginan. Berapa kali ia jatuh sudah, karena kelelahan. Mengingat usianya yang sudah lanjut dan juga sangat kelelahan. Ia tidak bisa jalan cepat lagi seperti para pengungsi lainnya. Diperbatasan ia didorong bahkan dipukul agar jalan lebih cepat lagi.

Akhirnya ia jatuh tersungkur. Sejak saat itu jalannya pun semakin terseok-seok. Marwa juga pernah dipukul oleh mereka yang merampas harta milikinya. Namum karena ia tidak memiliki apa-apa lagi; ia dipukul berkali-kali sehingga ia jatuh tersungkur. Bagaimana rasanya seorang nenek yang usianya sudah tua masih dipukuli seperti hewan? Hanya karena uang yang tidak ia memiliki lagi?

Dalam keadaan lelah, kelaparan maupun sakit Marwa tiba di Jerman sebelumnya ia tiba di Belanda. Setibanya di Jerman sudah beberapa kali mereka diludahi bahkan diancam agar mereka tidak meneruskan perjalanannya.

Hal yang paling menyakitkan dan membuat Marwa menjadi trauma. Ketika kalung perhiasan satu-satunya milik Marwa dirampas oleh mereka yang ingin merampok Marwa. Padahal kalung itu adalah kalung hadian perkawinan dari sang Suami almarhum.

Kalung kenang-kenangan terakhir dari Suaminya. Maka dari itulah setiap kali ia teringat wajah suaminya. Pada saat sang suami tenggelam. Ia selalu memegang kalung milikinya itu dengan air mata turun berlinang.

Sejak saat itu ia selalu hidup dalam rasa penuh ketakutan, bahkan pada saat tidurpun ia sering menjerit ketakutan. Hal ini saya ketahui dari para pengungsi lainnya yang tinggal sekamar dengan Marwa.

Setibanya di tempat penampungan di Alphen tempat mang Ucup tinggal. Marwa disambut oleh mang Ucup. Bukan hanya disambut dengan senyum WELCOME saja bahkan dengan pelukan kasih – BIG HUG.

Sehari kemudian ia jatuh sakit. Saya bantu merawat dia. Sejak saat itu setiap hari ia ingin selalu bertemu dengan saya. Ia selalu merasa bahagia sekali apabila bertemu dengan mang Ucup. Walaupun saya tidak bisa bahasa Arab, tetapi saya selalu berusaha untuk meluangkan waktu sejenak. Dengan sabar saya mendengarkan Marwa. Melalui kehadiran saya ia merasa tidak kesepian.

Sejak ia meninggalkan kampung halamannya, baru pertama kalinya ia diperlakukan secara manusiawi oleh Mang Ucup. Bahkan diperlakukan sebagai sanak keluarga sendiri.

Namun sejak saya sakit saya jarang datang lagi datang berkujung ke tempat pengungsi. Saya juga hampir tidak pernah bertemu lagi dengan Marwa. Ia menanyakan kepada para sukarelawan lainnya dimana Mang Ucup berada, tetapi tidak ada yang bisa memberikan jawaban yang pasti.

Mereka hanya mengetahui bahwa saya sakit dan untuk sementara tidak boleh diganggu. Hal ini membuat Marwa semakin panik dan trauma.

Sebelumnya saya sudah memberikan hadiah HP kepada Marwa. Apabila ia butuh bantuan saya . Kapan saja dan setiap saat ia bisa menghubungi saya melalui HP. Namun sejak saya sakit; atas saran dari putera saya. Saya OFF dahulu HP tersebut.
Sesuai dengan anjuran dari putera saya, kemarin saya berangkat berlibur ke Jerman.

Namun kemarin pagi saya dapat telpon dari seorang rekan sukarelawan lainnya untuk memberikan kabar. Marwa jatuh sakit dan sudah berhari-hari tidak mau makan, sehingga badannya semakin melemah.

Mendengar berita tersebut saya langsung berangkat pulang lagi ke Belanda. Padahal barusan saja saya berisitirahat semalam saja di rumah Thomas. Maklum saya merasa sangat kesian sekali kepada Marwa. Saya takut terjadi sesuatu dengan Marwa.

Sejak Marwa sakit ia berbaring terus dan tidak pernah meninggalkan tempat tidur lagi. Namun begitu ia melihat wajah mang Ucup ia tersenyum gembira sambil memeluk saya. Ia memeluk saya erat-erat dengan air mata yang turun deras mengalir membasahi bajunya mang Ucup. Beberapa saat lamanya ia memegang tangan Mang Ucup erat-erat seakan-akan ia takut sekali ditinggal lagi oleh saya.

Disisi lain saya sendiri merasa bahagia melihat Marwa lagi. Maklum saya takut Marwa juga mengalami nasib yang serupa seperti kakek yang saya rawat sebelumnya. Dimana ia meniggal dunia sebatang kara jauh dari sanak keluarga.

Saya sadar sepenuhnya bahwa dengan keberangkatan saya pulang kembali ke Belanda telah membuat Thomas menjadi kecewa dan sedih. Namun disisi lain saya telah bisa membahagiakan seorang perempuan Pengungsi tua yang merasa begitu kehilangan saya.

Cobalah renungkan oleh anda, berapa banyak orang kesepian di kolong langit ini. Kita tidak perlu melihat jauh-jauh, melainkan disekitar orang yang kita kasihi saja. Misalnya orang tua, saudara ataupun sahabat kita. Kapankah terakhir kalinya anda mau meluangkan waktu sejenak JUST TO SAY HELLO kepada mereka? Kapankah terakhir kalinya anda bersedia meluangkan waktu untuk mendengarkan curhat maupun keluhan orang yang ada kasihi?

Apakah memberikan waktu sejenak bagi orang yang kita kasihi itu terlalu mahal? Tapi dilain pihak kita bisa berjam-jam melototin Facebook. Orang yang anda kasihi jauh lebih berharga daripada para FRIENDS maupun Followers di FB. Apakah anda tahu bahwa orang yang anda kasihi jauh lebih membutuhkan anda daripada para Friends di FB!

Dengan mudah kita meng-klik LIKE di FB bahkan memberikan komentar kepada rekan-rekan di FB. Namun tanyalah sama kepada diri sendiri. Kapankah terakhir kalinya anda mengucapkan perkataan I LOVE YOU kepada orang yang anda kasihi? Hanya TIGA KATA saja, tapi percayalah bahwa hanya dengan tiga kata ini saja. Kita akan bisa membahagiakan orang yang kita kasihi. Kagak percaya?? TRY IT !

Aneh bin nyata di dunia ini, kita dengan mudah bisa mengeluarkan kata-kata kasar untuk menghina atau memaki orang. Namun kebalikannya bagi banyak orang sukar sekali hanya untuk mengucapkan tiga kata saja I LOVE YOU!

Dear rekan-rekan terkasih di FB dengan ini mang Ucup ingin mengucapkan selamat berakhir pekan dengan ucapan I LOVE YOU ALL FULL ABIS!

Kebanyakan manusia setelah ia mencapai usia lanjut, selalu ingin mendapatkan jawaban: KENAPA SAYA DILAHIRKAN? DAN TUJUAN HIDUP SAYA INI APA?

Untuk mengetahui jawabannya bedasarkan pengalaman hidup dari Mang Ucup. bacalah oret-oretan selanjutnya dari mang Ucup.

Selama weekend ini saya akan istirahat total dahulu alias STOP MENULIS. Baru Senin yang akan datang saya akan menulis lagi untuk mana saya mohon maaf dan pengertiannya.

Dear rekan-rekan terkasih di FB dan di Milis dengan ini mang Ucup ingin mengucapkan selamat berakhir pekan dengan ucapan I LOVE YOU ALL FULL ABIS!

PS. Marwa bukanlah nama sebenarnya sebab tidaklah etis untuk menulis mempublikasikan nama seseorang yang sedang dirundung malang. Terlampir foto saya dengan Marwa.

Mang Ucup