Pengungsi UCUP from BANDUNG – Bag. 14

Ketika saya kecil hukuman terberat yang saya dapatkan dari Babah Awat (ayahanda). Apabila ia mendiamkan saya selama berhari-hari. Rasanya saya lebih senang digebukin sampai babak belur daripada SILENT atau tidak diajak ngomong sama sekali oleh Babah.

Seorang pedagang Pulsa pernah menceritakan kepada saya, bahwa PULSA nilainya jauh lebih tinggi daripada BERAS ataupun makanan. Kita akan lebih ikhlas mengurangi jatah makan daripada tidak punya Pulsa. Renungkanlah bagaimana perasaan anda apabila satu atau dua hari saja; HP anda rusak atau tidak bisa komunikasi dengan orang-orang yang anda kasihi ataupun teman-teman anda?

Sejak tiga minggu terakhir ini mang Ucup aktiv membantu para PENGUNGSI di Belanda. Saya membantu mereka bukan hanya sekedar di dapur saja. Bahkan di kamar mereka apabila ada yang sakit. Harus diakui bahwa tubuh yang sudah Tua Renta ini terkadang sering MOGOK. Alias tidak bisa dipaksa lagi. Apalagi kalau kecapaian ataupun Kurang Tidur.

Apakah anda tahu bahwa para Pengunsi disini bukan hanya sekedar membutuhkan SANDANG PANGAN saja, tetapi juga DISAPA DENGAN RASA KASIH. Hal inilah yang selalu saya lakukan setiap hari ditempat penampungan para Pengungsi disini

Saya selalu mengusahakan pada saat saya membnatu mereka. Misalnya selalu memberikan COFFEE with a SMILE & FOOD with LOVE. Harus diakui bahwa terkadang kalau sudah terlalu kelelahan untuk senyumpun rasanya sudah sukar. Jadi hanya bisa menyeringai saja, kearena kelelahan ataupun kesakitan. Setibanya di tempat pengungsian banyak PENGUNGSI memeluk saya (HUG) dengan rasa penuh persaudaraan dan juga sebagai ucapan terimkasih mereka.

Hanya perlu diketahui apabila dipeluk oleh PENGUNGSI yang sudah berbulan-bulan tidak mandi. Pakaian yang mereka milikipun hanya yang melekat di badan saja. Anda bisa membayangkan betapa baunya badan mereka. Namun dengan penuh rasa sukacita dan juga penuh rasa kasih saya memeluk mereka kembali. Kenapa? Karena saya membantu mereka dengan penuh rasa kasih tanpa pamrih. Mirip seperti juga membantu anggota keluarga sendiri.

Pada saat saya sedang tidak mood, karena kurang tidur ataupun kecapaian. Saya berusaha untuk menghibur diri sendiri. Saya berusaha untuk membangkitkan kembali semangat maupun men-Charge kembali tenaga yang telah melemah ini. Saya bendendang sendirian lagu “AJARILAH KAMI INI UNTUK SALING MENGASIHI” ataupun Berdoa sejenak agar diberikan tenaga tambahan.

Minggu yang lampau ada seorang Pengungsi Tua. Rupanya ia sangat kelelahan sekali, setelah berbulan-bulan jalan kaki dengan menahan rasa lapar, dingin maupun hujan. Setibanya di tempat penampungan ia jatuh sakit. Walaupun saya tida memiliki pendidikan maupun pengalaman sebagai juru rawat, minimum saya bisa bantu dia dengan mencuapi dia makan maupun memandikan dia setiap hari.

Kami dianjurkan agar selalu pakai sarung tangan ataupun Masker penutup mulut. Namun hal ini tidak pernah saya mau lakukan agar tidak ada GAP ataupun jarak antara saya dengan mereka. Saya menyadari dan merasakannya sendiri, bahwa ini tidaklah mudah. Mengingat bau badan maupun bau mulut mereka itu terkadang sangat menyengat sekali. Namun apabila kita menganggap bahwa mereka itu sebagai anggota keluarga sendiri. Maka hal ini mudah dilakukan dengan baik.

Pada saat saya menyuapi dia; berdering bunyi HP saya. Rupanya Thomas putera saya yang menelpon saya. Entah kenapa kejadian ini membuat air matanya sang pengungsi tua tersebut turun berlinang. Dengan bahasa Tarzan antara bahasa Arab dan gerakan tangan. Ia mohon agar saya memperkenankan dia untuk meminjam HP saya. Saya pinjamkan HP tsb dengan rasa senang hati. Ia mohon agar saya bantu menelpon istrinya di Irak.

Ia menelpon istrinya dengan suara sesengukan karena ia menelpon sambil menangis. Dengan bantuan seorang peterjemah. Ia menceritakan bahwa istrinya sedang sakit di Irak, sehingga istrinya tidak bisa turut pergi mengungsi. Berbulan-bulan lamanya ia tidak pernah mengetahui ataupun mendengar kabar lagi dari istrinya.

Maklum selama perjalanan dari Irak sampai ke Belanda ia tidak pernah memiliki HP. Oleh sebab itulah ia merasa sangat bahagia sekali dengan HP yang saya pinjamkan kepadanya. HP tsb ia pegang erat-erat, disitu terasakan sekali oleh saya, bahwa ia sangat mendambakan sekali untuk bisa memiliki HP tersebut.

HP yang saya pakai pada saat itu adalah iPhone 6s yang merupakan hadiah dari Thomas putera saya. Melihat ia begitu mendambakan HP tsb. Tanpa pikir panjang lagi dan juga dengan rasa senang hati saya berikan HP kepadanya HP. Begitu bahagianya dia menerima hadiah HP tsb sehingga mencium tangan saya berkali-kali sebagai ucapan terima kasih. Mengingat HP saya bukanlah Prepaid, sehingga dengan mana ia bisa menelpon sepuas hati kapan saja dan kemana saja.

Disinilah saya baru menyadari sepenuhnya bahwa bagi para pengungsi HP ini merupakan segala-galanya. Sebab melalui HP itulah ia bisa menghubungi sanak sadaranya yang ditempat jauh. Komunikasi melalui HP ini bisa membahagiakan dan menenangkan kedua belah pihak. Sang pengungsi bisa mengetahui keadaan keluarganya yang ditingal nun jauh. Sendangkan keluarga yang ditinggal bisa mengetahui bahwa ayah, suami atau anak mereka telah tiba dengan selamat di Belanda dan tidak kurang suatu apapun juga.

Tiga hari kemudian saya mendengar kabar bahwa sang pengungsi tua yang sakit tersebut meninggal dunia. Katanya ia meninggal dunia dengan memegang HP hadiah dari saya ditangannya. Tidak satupun orang-orang disekitar situ yang tega dan mau mengambil kembali HP tersebut dari tangannya.

Sejak saat itu saya sudah menghibahkan puluhan HP lainnya kepada para pengungsi. Mereka tidak membutuhkan HP yang Super Canggih ataupun Smartphones. Dengan hadiah HP jadul sekalipun mereka sudah merasa sangat bahagia sekali. Sejak saat itu saya menggunakan kembali HP jadul saya yang lama.

Hikmah yang saya dapatkan dari kejadian ini. Apabila kita memberikan hadiah entah apapun juga dan kepada siapapun juga. Kita harus memberikan dengan penuh rasa sukacita. Percuma kita memberikan barang mahal sekalipun apabila tidak ada rasa ikhlas dan sukacita. Dan apabila kita memberi jangan menharapkan imbal balik entah apapun juga, karena kita memberi jadi tidak meng-hutangkan budi ataupun pamrih.

Terkadang saya ingin memberikan bantuan jauh lebih banyak lagi namun tenaga dan kemampuan saya sangat terbatas. Kemarin Thomas putera saya marah besar kepada saya. Maklum para Dr yang merawat Mang Ucup telah berkali-kali menganjurkan Agar saya untuk sementara waktu ini istiharat dahulu. Tapi kenyataannya saya masih saja sering bandel dan tetap pergi terus ke tempat pengungsi untuk membantu mereka. Maklum membantu para pengungsi itu bagi saya seperti juga panggilan hidup.

Oleh sebab itula Thomas Putera saya mengusulkan agar mang Ucup bisa istirahat total, sebaiknya mang Ucup pergi berlibur ke tempat yang jauh dari para Pengungsi misalnya pergi berlibur ke Indonesia. Bagaimana menurut pendapat rekan-rekan terkasih di FB?

Ketika mang Ucup masih muda saya bercita-cita ingin jadi JURAGAN seperti Aristotle ONASIS orang terkaya di dunia. Pada saat itu saya menilai Onasis adalah manusia yang BERHASIL sehingga bisa jadi super kaya. Namun pada saat ini penilaian saya terhadap kesuksesan seseorang berbeda.

Dahulu saya menilai seseorang itu SUKSES di dalam kehidupannya karena ia telah berhasil BANYAK MENDAPATKAN. Sekarang saya menilai seseorang dari sudut kaca mata yang berbeda. Mang Ucup nilai seseorang itu berhasil berdasarkan berapa BANYAK ia MEMBERI di masa hidupnya. Misalnya Bunda TERESA atau MAHATMA GANDHI.

Pada saat nanti kita bertemu dengan Sang Pencipta di surga. Pertanyaan yang akan diajukan kepada kita bukannya berapa BANYAK PENDAPATAN yang telah terkumpulkan di dalam kehidupan kamu namun BERAPA BANYAK kamu telah MEMBERI!

Mang Ucup