Pengungsi UCUP from BANDUNG – Bag. 10

Saya masih ingat ketika saya lagi kecil (usia 5 – 6 th) apabila saya merasa ketakutan, karena di luar gelap gulita dan kebenaran hujan deras di iringi oleh bunyi petir, Emak Ani selalu memeluk saya. Dalam pelukannya saya merasa terlindungi, merasa tentram dan damai.

Sambil membelai-belai kepala saya, Ibu selalu menyanyikan lagu: “WHAT A FRIEND WE HAVE IN JESUS”. Mak Anie berkata kita tidak perlu takut, karena kita mempunyai KAWAN yang setia, yang selalu bersedia untuk melindungi dan membantu kita. Mak Anie sering menyanyikan juga lagu tsb; apabila Mak Anie sendiri sedang menghadapi problem atau lagi kesepian, karena di tinggal oleh ayah.

Sekarang dalam keadaan takut dan kesepian seorang diri. Seakan-akan terdengar kembali secara sayup-sayup suara Mak Anie yang lagi menyanyikan lagu: “YESUS SAHABAT SEJATI ” – “What we have a friend in Jesus”. Saya sendiri TIDAK PERNAH menyanyikannya, tetapi saya hafal akan melody dan beberapa dari teks lagu tsb, yang bunyinya sebagai berikut:

What a friend we have in Jesus
Have we trials and temptations?
Is there trouble anywhere?
We should ever be discouraged;
Take it to the Lord in prayer

Yesus sahabat sejati
…………………………..
Kalau datang percobaan, kesukaran dan duka
Jangan putus harapkan, serahkanlah dalam doa

Tanpa saya sadar, berlinang air mata saya keluar. Entah kenapa walaupun usia saya hampir ½ abad. Pada saat tsb rasanya saya sangat mendambakan sekali kembali belaian kasih sayang dari Mak Anie. Sambil menangis saya mulai saya BERLUTUT, Puluhan tahun sudah saya tidak pernah berlutut untuk Tuhan, tetapi kenapa saya sekarang mau berlutut kepada-Nya?

Mungkin, karena di dorong oleh rasa takut dan kesepian seorang diri di dalam sel yang gelap, dingin dan lembab. Mungkin juga karena baru sekarang inilah saya merasakan betapa lemahnya diri saya. Sebelumnya saya merasa selalu kuat dan tabah menghadapi segala macam cobaan maupun tempaan hidup, tetapi kenapa sekarang menjadi lemah? Entahlah, saya sendiri tidak bisa menjawabnya.

Setelah sekian puluh tahun saya jauh dari Tuhan baru sekarang inilah saya mulai berusaha untuk berdoa lagi. Namun tidak tahu bagaimana caranya. Saya berlutut dihadapan hadirat-NYA di dampingi oleh seorang Pembunuh dan Maling.

Sambil berlinangan air mata saya keluar, dengan suara yang serak. Saya berusaha untuk mencoba menyanyikan lagu “What a friend we have in Jesus” secara perlahan. Namun saya tidak hafal kata-katanya. Maka saya hanya bisa mengulang-ngulang kalimat yang sama, yang saya hafal.

Entah berapa lama saya berdoa dan menangis, setelah itu saya melihat ke langit melalui tralis jendela sel tempat dimana saya di tahan. Saya melihat bintang. Inikali rasanya bintang tsb kelihatan jauh lebih terang daripada biasanya. Memang harus diakui bahwa bintang akan kelihatan jauh lebih terang, apabila langit lebih gelap.

Begitu pula dalam keadaan kegelapan kehidupan saya inilah baru saya bisa merasakan terang-Nya Tuhan! Maklum pada saat saya dalam keadaan senang dan memiliki duit yang berlimpah ruah, saya TIDAK BUTUH TUHAN, Bahkan kepikirpun tidak !

Di dalam sel di belakang tralis. Dibelakang tembok penjara yang tebal, tidak akan ada orang yang bisa masuk untuk menghibur saya. Terkecuali Tuhan, berdasarkan keyakinan dan kepercayaan ini. Rasa takut dan rasa kesepian saya mulai pudar sedikit demi sedikit. Tidak ada tembok yang bagaimana tebalnya sekalipun juga, tidak ada tralis yang kuatnya sekalipun yang bisa memisahkan KASIH Tuhan dari umat-Nya.

Mulai saat itulah, saya mulai belajar berdoa kepada Tuhan setiap hari. Dan memang benar apabila saya merasa takut dan merasa kesepian. Obat satu-satunya ialah berdoa dan menyanyikan lagu tsb. Lagu inilah yang membantu saya untuk bisa tabah menghadapi rasa takut di dalam bui. Dengan perantaraan lagu inilah yang memberikan keyakinan kepada saya bahwa kita benar-benar mempunyai seorang sahabat sejati.

Bagi saya ini merupakan satu MUKJIZAT! Mukjizat bukannya hanya berarti kesembuhan dari penyakit Kanker Stadium 4 ataupun medadak menang hadiah sayembara satu juta AS$. Melainkan dimana Tuhan telah menemukan kembali domba-Nya yang hilang.

Pada saat saya berada dalam bui, tidak ada pembimbing agama yang mampu mengotbahi saya. Maklum mana ada Pendeta di Bui. Teman dalam satu sel saya hanya Maling dan Pembunuh saja. Anehnya pembunuh yang memiliki badan dan penampilam seperti Mike Tyson inilah yang akhirnya bisa memberikan kasih sayang. Perasaan kasih sayang kepada Mang Ucup bak seorang ibu yang mengasihi anaknya. (Baca: PENGUNGSI UCUP FROM BANDUNG – BAG. 7)

Cobalah anda renungkan pada saat kita jatuh. Kebanyakan orang akan menjauhi diri kita. Kita ini di anggap bukan hanya sebagai sampah saja, bahkan sebagai pederita penyakit kusta yang menular, yang harus di jauhi. Tetapi kebalikannya pada saat kita bergelimang dalam uang rasanya ribuan orang yang ingin berkawan dengan saya, orang yang tidak dikenalpun mengaku sebagai krabat keluarga sendiri.

Namun pada saat kita jatuh, kita merasa menjadi sebagai orang yang terhina. Hal inilah yang di alami oleh diri saya sendiri. Walaupun demikian saya merasa bersyukur dan berterim kasih kepada Tuhan, karena dari pengalaman masuk Bui inilah akhirnya saya bisa menemukan Tuhan. Bagi saya ini merupakan satu MUKJIZAT yang tak terhingga. Disamping itu bukan hanya sekedar bisa menemukan Tuhan saja, tetapi saya juga menjadi sadar sepenuhnya bahwa saya ini orang BERDOSA bahkan seorang NAPI!

Oret-oretan tersebut di atas adalah oret-oretan TERAKHIR saya mengenai JUSUF RANDY (JR). Biarlah JR ini dilupakan saja, maklum saya jauh lebih senang dikenal dan disapa sebagai MANG UCUP ataupunn EYANG UCUP. Anggap saja JR itu sudah mati. Oleh sebab itulah pula selama bertahun-tahun saya tidak pernah mau menceritakan tetang JR. Banyak rekan-rekan di milis; yang telah mengenal Mang Ucup selama puluhan tahun pun. Baru menjadarinya sekarang bahwa JR itu adalah Mang Ucup.

Disamping itu kepada saudara-saudara penganut agama lainnya. Saya mohon maaf. Tulisan ini tidak bertujuan untuk menyebar luaskan renungan Dakwah. Melainkan sekedar dongeng mengenai kisah pengalaman hidupnya Mang Ucup. Sebagai penutup dari kisah hidup saya. Kisah yang sudah merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Kepada para FRIENDS di FB setelah anda mengetahui bahwa Mang Ucup itu seorang NAPI. Mungkin ada yang merasa MALU mempunyai FRIEND seperti Mang Ucup silahkan segera dirubah saja status saya menjadi UNFRIEND. Untuk ini saya bisa memaklumi sepenuhnya. Begitu juga kepada moderator di Milis, apabila anda merasa kurang nyaman akan keberadaan Mang Ucup di Group ataupun milis ini silahkan di BAN saja.

Mogah-mogahan kisah hidup mang Ucup ini tidak membosankan pembacanya ataupun membuat pembacanya menjadi Muak karenanya.

Dengan SOJA rangkap tangan dua Mang Ucup MOHON PAMIT ! Kalau film sih sudah THE END githu!

PS. Lukisan yang terlampir dilukis oleh saudara angkat saya Bambang Sugeng pada tahun 2014. Ia adalah seorang pelukis kelas dunia. Banyak terima kasih brother Bambang