 |
Celakalah kamu, hai bumi dan laut! Karena Iblis telah turun kepadamu, dalam geramnya yang dahsyat, karena ia tahu, bahwa waktunya sudah singkat.
-- Wahyu 12:12 |
|
 |
 |
We have 6 guests and 0 members online
You are an anonymous user. You can register for free by clicking here
|
|
 |
|
 |
Posted by: mangucup on Monday, May 12, 2003 - 07:25 AM
|
 |
 |
|
"Edan lho!" dengan "Lho edan!", arti dan maknanya berbeda seperti bumi dan langit. Bukan karena perkataan "lho" nya yang satu di depan dan yang lain di belakang, melainkan karena yang satu sifatnya memuji dan meng-ungkapkan
penuh rasa kagum atau berarti "diluar jangkauan pikirannya" sedangkan yang lain ialah menghina bahwa "lho adalah orang edan" atau orang yang "jangkau pikirannya sudah keluar"!
Harimau hanya bisa menggeram . Burung hanya bisa berkicau. Apakah Anda
pernah mendengar harimau berkicau? Atau kebalikannya burung menggeram?
Tetapi, karena manusia mempunyai tenggorokan yang bisa mengatur bunyi2an,
bukan saja lebih bervariasi, tetapi yang penting lebih bermakna. Ia bisa
mengucapkan kata yang sama, dengan berbagai nada, sehingga maknanya
ber-beda2.
Sebagai perumpamaan kalau saya pulang kerja dan membawa hadiah untuk istri
saya, ia menanyakan "Mau makan?" dengan nada yang lembut, saya merasa
disayang, tetapi kebalikannya kalau saya pulang malam dari bar ia mengajukan
pertanyaan "Mau makan?" tetapi dengan nada keras, saya merasa se-akan2 mau
diracun.
Disebut dengan nama panggilan yang benarpun banyak orang menjadi marah,
sebagai buktinya banyak orang keturunan Tionghoa, merasa tidak senang dengan
panggilan Cina walaupun sebenarnya Cina adalah sebutan ilmiah yang terbenar
dan tertepat yang berlaku universal. Alasannya? Ketika pada th2 permulaan
pemerintah Order Baru (sekitar th 1966), dibuat peraturan untuk menggantikan
penyebutan orang Tionghoa menjadi Cina. Istilah ini dianggap kasar dan
menghina, karena secara tidak langsung tapi jelas pemerintah Orde Baru
beranggapan bahwa pemerintah Cina membantu PKI, karena itu mereka harus
dihukum dengan dipanggil Cina! Sebagai keturunan Cina, saya tidak merasa
tersinggung dengan panggilan "Cina", di Malaysia juga mereka menggunakan
nama Cina. Cina atau Tionghoa buat saya tidak ada masalah. Serpahan
"Thionhoa lho!", tak usah hanya "Cina lho!" kalau maksudnya memang menghina,
terasa sama-sama menyakitkan.
Banyak orang merasa dipuji kalau mereka disebut sebagai "orang senang",
tetapi kebalikannya merasa dihina kalau dipanggil "Oom senang".
Bunyi kicau burung bahkan bunyi geram harimau tidak akan bisa membunuh,
tetapi ucapan manusia bisa menjadi penyebab kematian, kesengsaraan maupun
persahabatan. Dengan perkataan kita bisa membunuh orang, umpamanya dengan
memberikan kesaksian palsu, sehingga orang itu dihukum mati atau menyebar
luaskan gosip, sehingga orang merasa malu akhirnya bunuh diri, atau
menghancurkan rumah tangga seseorang sehingga akhirnya membuat banyak orang
menderita. Penjarahan maupun pembakaran bisa terjadi hanya disebabkan oleh
beberapa kata hasutan saja.
Manusia bisa mengontrol dirinya memungkinkannya bersahabat dengan apa saja,
juga dengan binatang2 buas, seperti para penjinak binatang itu, tetapi dalam
saat bersamaan ia bisa memusuhi saudara atau koleganya yang dianggap tidak
sepaham dengan dia. Bahkan banyak orang yang bisa memusuhi saudara kandung
maupun orang tuanya sendiri.
Bobot dari satu ucapanpun banyak tergantung juga dari siapa yang
mengucapkannya, pada umumnya orang lebih percaya ucapan dari seorang pemuka
agama daripada ucapan seorang pedagang. Oleh lebih percaya dengan tulisan
dari pak Bob Jokiman daripada tulisannya mang Ucup. Begitu juga dengan
ucapan mahasiswa berbeda jauh dengan ucapan seorang priyayi. Dikalangan
tertentu ucapan mahasiswa langsung dinilai menghujat. Sedangkan ucapan dari
Bill Clinton ataupun Pak Harto pasti selalu benar, seperti yang dikemukakan
oleh Jaksa Agung: "Masa kita tidak percaya ucapan pak Harto, kalau beliau
sudah mengucapkan tidak punya uang satu sen pun juga , berarti ini sudah
jelas, bahwa beliau tidak pernah melakukan korupsi." Maka dari itu mahasiswa
lah yang harus dihukum, karena menghujat! Apakah Anda tidak tahu bahwa pihak
kejaksaan Agung sudah dari dahulu menerapkan prinsip "Praduga Tak Bersalah"
ataukah mungkin Mang Ucup yang salah nulis dimana seharusnya "Paduka Tak
Bersalah"! Entahlah??
Komentar penulis: Mazmur 12:3-4 Hentikanlah kata-kata yang merayu itu,
TUHAN, bungkamkan orang-orang bermulut besar, yang berkata, "Kami berkuasa
dengan lidah kami! Apa saja dapat kami katakan, dan tak ada yang bisa
menghalangi!"
Kalau kita ng-omong dan omongan tsb tidak ada isinya, disebut omong kosong.
Apa bedanya antara ninja dan tinja?
Sejak munculnya "Kasus Banyuwangi" berkeliaran "pembunuh misterius" yang
begitu saja disebut "Ninja". Bisa saja hal ini membuat sebagian orang Jepang
tersinggung, karena peristiwa "pembunuhan misterius" itu tidak ada
hubungannya dengan Ninja Jepang.
Kalau toh kita harus meminta maaf kepada orang Jepang karena tak se-ngaja
telah menjelekkan citra Ninja Jepang, kita boleh berdalih bahwa di Indonesia
memang ada Ninja, tetapi dalam arti lain.
Dalam bahasa Jawa (krama) "tinja" bermakna kotoran manusia, "meninja" =
membuang tinja alias buang air besar. Di kalangan maling tradisional ada
kebiasaan "meninja" setelah beraksi. Mereka percaya bahwa "tinja"
yang ditinggalkan di rumah korbannya merupakan jaminan bahwa jejak mereka
tak mungkin dilacak orang (Mungkin karena bau busuk tinja itu bisa
menetralisir bau keringat/badan si maling?)
Dalam bahasa Bali ada kata singkatan "ninja" - ninjik-ninjik jalane
(berjingkat-jingkat jalannya); "ningting jaler" (mengangkat celana). Namun
kata-kata itu tidak ada hubungannya dengan Ninja, sebab di mana pun, di
Jepang atau di Banyuwangi, rasanya tidak ada Ninja yang jalannya
ber-jingkat-jingkat sambil mengangkat celana.
Kenapa suami istri sering bentrok walaupun keduanya menggunakan bahasa
Indonesia, kebanyakan karena pengungkapan kata yang berbeda sehingga mereka
sering misunderstanding dan sering terjadi salah paham.
Dan ini bukannya terjadi antara wanita dan pria saja, melainkan juga dalam
kehidupan kita sehari-hari. Sebagai perumpamaan mahasiswa tidak mengerti apa
yang diucapkan oleh para pemimpin negara, atau kebalikannya sehingga
akhirnya sering terjadi demo.
Bagaimana dengan kata2 kita bisa menjalin hubungan yang lebih harmonis
antara suami & istri?
Bagaimana dengan kata2 kita bisa memberikan motivasi kepada seseorang?
Bagaimana pandangan dari sudut agama mengenai ucapan dan perkataan kita
se-hari2?
Mazmur 141:3 Ya TUHAN, jagalah mulutku dan awasilah bibirku.
When you communicate, use words
That heal and nourish life
Instead of hurling angry words
That wound and stir up strife
Sharp words can dull respect
Bersambung
Maranatha
Mang Ucup
e-Mail: mangucup@wanadoo.nl
Homepage : www.mangucup.org
|
|
 |
 |
|
 |
| |
|
| Lho Edan! (Bag. 1/2) | Login/Create an account | 13 Comments |
|
| | Comments are owned by the poster. We aren't responsible for their content. |
|
|