I LOVE Full Abis – PARA PENGUNGSI!

Setelah tiga hari kelaparan dan kehausan diatas lautan. Para perempuan dan anak-anak merasa sangat kehausan sekali. Kami para pria berusaha kencing di botol. Kami memberikan air kencing kami kepada mereka. Agar mereka bisa bertahan hidup lebih lama.

Esoknya beberapa diantara kami mulai berfantasi seakan-akan berada di dalam kamar hotel di Jerman. Bahkan ada beberapa yang mulai menjerit-jerit histeris seperti ketakutan. Rupanya rasa stress mereka sudah overloaded. Sebelum akhirnya kapal karet kami karam juga.

Hali itulah yang diceritakan oleh seorang pengungsi. Dalam tahun ini saja; sudah lebih dari 3.500 orang mati tenggelam dalam menempuh perjalanan mereka ke Eropa.

Kisah tragis lainnya. Seorang ayah berusaha untuk menyelamatkan diri dengan berenang di laut yang dingin sambil membawa bayinya. Ia tidak berhasil menyelamatkan ibunya yang telah mati tenggelam secara menyedihkan. Oleh sebab itulah ia berusaha sedapat mungkin; agar bisa menyelamatkan bayi putera satu-satuya; sambil berenang terus sekuat mungkin. Lihat foto.

Setibanya di daratan Eropa para pengungsi masih harus menempuh perjalanan ribuan km. Mereka berjalan kaki selama berbulan-bulan lamanya. Agar bisa mencapai tempat tujuan mereka ialah Jerman, karena Jerman menganut politik pintu terbuka bagi para pengungi.

Perjalanan dengan penuh penderitaan. Lapar maupun haus. Disamping itu mereka harus menempuh perjalanan di bawah hujan dan cuaca yang sangat dingin. Terkadang sampai minus dibawah 5 derajat C.

Mereka tidak memiliki pakaian dingin ataupun selimut. Bahkan tempat berteduh pun tidak mereka miliki. Mereka terpaksa harus tidur di alam terbuka, tanpa alas tidur bahkan terkadang dibawah guyuran hujan lebat. Apabila cuaca sudah dingin sekali; satu-satunya cara yang bisa mereka lakukan adalah saling berpelukan satu dengan yang lain.

Agar bisa berbagi rasa panas suhu badan mereka. Satu-satunya pakaian yang mereka miliki hanya baju yang melekat ditubuhnya. Maka dari itu terkadang mereka lebih senang ditangkap dan tinggal di tempat tahanan, karena di situ minimum ada alas untuk tidur dan di bawah naungan dibawah atap.

Belum lagi penderitaan lainnya; dimana mereka diperas oleh para oknum penjaga perbatasan. Banyak pula gadis-gadis pengungsi yang masih belia; dipaksa ataupun juga karena terpaksa harus melayani nafsu sex mereka.

Dengan mudah kita bisa mengajukan pertanyaan kenapa mereka harus pergi mengungsi? Perlu diketahui bahwa di negaranya mereka sudah tidak memiliki apa-apa lagi.

Kota tempat mereka tinggal sudah habis terbakar dan dibumi ratakan oleh bom. Disamping itu bagi mereka hanya ada dua pilihan saja ialah MATI di BOM atau MATI DITEMBAK.

Apakah salah apabila dalam kondisi ketakutan seperti ini, mereka memilih untuk meninggalkan kampung halamannya? Perjalanan yang penuh penderitaan. Disamping itu taruhannya pun Nyawa! Penderitaan perjalanan mereka bisa kita saksikan sendiri secara live di TV.

Bagi mereka sudah tidak ada alternatif lainnya selain maju terus sebab NO WAY RETURN. Mereka tidak akan mampu dan bisa mengulang balik lagi perjalanan ke kampung halaman mereka lagi! Oleh sebab itulah walaupun harus masuk penjara sekalipun di Eropa mereka merasa jauh lebih ikhlas.

Saya menyaksikan sendiri bagaimana para orang tua mengendong anaknya yang masih kecil dalam kondisi perjalanan seperti itu. Bahkan para lansia yang sudah tidak mampu jalan lagi. Di gendong oleh sanak keluarganya untuk menempuh perjalanan berat yang sangat melelahkan. Perjalanan yang ribuan km jaraknya. Mereka harus menempuh perjalanan ini dalam kondisi lapar, haus, kedinginan bahkan dalam keadan sakit.

Abdullah bin Kasim sangat mengasihi adiknya. Adiknya sejak lahir menderita penyakit lumpuh otak. Hal ini mengakibatkan dia jadi lumpuh total. Karena kasihnya; ia tidak bersedia meninggalkan adiknya seorang diri. Ia tahu, apabila adiknya ditinggalkan seorang diri; berarti kematian bagi adiknya. Ia mengendong adiknya yang sudah dewasa dimana berat badannya sudah lebih dari 40 kg. Mereka pun berbagi makanan maupun minuman seadanya.

Mereka jalan kaki menempuh jarak yang penuh bahaya sepanjang ribuan km selama berbulan-bulan. Tanpa mengenal rasa lelah maupun menyesal. Ia menggendong terus adiknya. Disinilah terbuktikan bahwa rasa kasih itu; bisa mengatasi segala-galanya. Lihat foto yang terlampir

Mereka datang mengungsi; bukannya ingin jadi kaya. Mereka mengungsi agar terhindar dari perang dan kematian. Mereka sudah penat dan capek. Mereka hanya ingin mencari sepetak tempat berteduh yang aman.

Oleh sebab itulah juga Mang Ucup telah mendaftarkan diri sebagai SUKARELAWAN untuk membantu para pengunsi. Kota Alphen aan den Rijn- Belanda; tempat dimana saya tinggal, akan menampung lebih dari 1.200 orang pengungsi. Jumlah yang tidak sedikit. Untuk ini mereka membutuhkan banyak tenaga sukarelawan.

Saya tergerak dan ingin membantu mereka, karena mereka itu juga sesama manusia. Mereka semuanya ini adalah saudara Mang Ucup yang sedang membutuhkan bantuan.

Entah penganut agama apapun juga, maupun warga apapun juga; mereka membutuhkan uluran tangan kami. Untuk ini saya bersedia mengurangi jatah jajan, liburan maupun waktu tidur saya. Saya juga telah menyatakan kesediaan saya untuk menampung beberapa pengungsi untuk tinggal di rumah kami.

Oleh sebab itu untuk sementara ini; saya berhenti dahulu berolah-raga agar bisa lebih fokus membantu mereka. Apalagi saya sendiripun dahulunya adalah seorang Pendatang atau PENGUNGSI dari Indonesia yang hijrah ke Eropa.

Maka dalam kesempatan ini saya mohon maaf sebelumnya, apabila tidak setiap komentar; bisa saya tanggapi lagi secara satu per satu.

Mang Ucup